<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=31231294&amp;blogName=indra+punya+blog&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Findrajati.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Findrajati.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

 

Broer, Belajarlah menerima Kekalahan!

sabtu kemarin, kedua adik lelaki saya dodit dan fadel mengikuti kejuaraan pesawat terbang bertenaga karet yang pertama diadakan di indonesia yang dilaksanakan dikantor pt dirgantara indonesia (pt di). mereka mewakili sma 9 bandung. walaupun si bungsu fadel masih kelas 3 smp, akhirnya panitia perlombaan bisa ditipu juga. mereka berdua telah mempersiapkan pesawat mereka sejak seminggu kemarin. dari segi perencanaan project, mereka membuat development phase lengkap dgn milestone2nya. dodit yang bertugas sebagai engineer pesawat, merancang prototype mulai dari mencari titik berat, luas area sayap dan pemilihan bahan baku pesawat.
fadel, dodit dan indra
setelah si sayah diporotin tiap hari untuk biaya pembuatan bahan pesawat dan melakukan 2 kali uji terbang akhirnya hari jumat malam, jam 19.30 pesawat mereka akhirnya diperkenalkan kepada keluarga yang diberi nama DOFA-25. esok paginya setelah lulus uji kelayakan, maka perlombaan pun dimulai. mereka mendapat nomor urut 26. akhirnya DOFA-25 dengan berat 26,7 gram terbang diudara selama 12,47 detik diruangan auditorium pt di. setelah 51 peserta menerbangkan pesawat masing2, DOFA-25 hanya menempati urutan 4, dari segi ketahanan melayang diudara. mereka pun lesu dan terlihat sangat kecewa. saya pun memberi nasehat kepada mereka agar belajar lebih keras supaya bisa berprestasi dan harus bisa menerima kekalahan. karena awal dari sukses dimulai dari kegagalan. akhirnya mereka pun mengerti. eh pulangnya ditodong hoka2 bento deh. dari acara ini saya bangga sekali dengan prestasi mereka berdua, walaupun akhirnya kalah. kedua adik saya ini termasuk orang yang boga kahayang (ada keinginan) untuk belajar teknologi. i wish our dad in heaven watch DOFA-25 flight, what would he say?

 
 

Makassar oh Makassar .....

Saya ingin berbagi sedikit cerita mengenai kota Makassar (pernah bernama Ujungpandang). Saya pernah bermukim disana pada rentang 1981-1986 dan 1990-1993. Yang ingin saya ceritakan adalah asal muasal nama kota Makassar itu sendiri, begini ceritanya :
Jaman dahulu didaerah yang sekarang bernama Makassar sendiri, berdiri kerajaan besar bernama Gowa-Tallo. pada suatu hari sang baginda raja kerajaan Gowa-Tallo yang ke-6 yang bernama I Mallingkaan Daeng Mannye Karaeng Matoaya bermimpi selama 3 malam berturut-turut melihat cahaya bersinar yang muncul dari daerah Tallo. Cahaya kemilau nan indah itu memancar keseluruh daerah Gowa lalu ke negeri sahabat lainnya. Bersamaan di malam ketiga itu, di bibir pantai Tallo merapat sebuah perahu kecil. Layarnya terbuat dari sorban, berkibar kencang. Nampak sesosok lelaki menambatkan perahunya lalu melakukan gerakan-gerakan aneh. Lelaki itu ternyata melakukan kegiatan yang kita sebut sholat. Cahaya yang terpancar dari tubuh Ielaki itu menjadikan pemandangan yang menggemparkan penduduk Tallo, yang sontak ramai membicarakannya hingga sampai ke telinga Baginda Karaeng Matoaya. Di pagi buta itu, Baginda bergegas ke pantai. Tapi tiba-tiba lelaki itu sudah muncul ‘menghadang’ di gerbang istana. Berjubah putih dengan sorban berwarna hijau. Wajahnya teduh. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya. Lelaki itu menjabat tangan Baginda Raja yang tengah kaku lantaran takjub. Digenggamnya tangan itu lalu menulis kalimat di telapak tangan Baginda "Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi datang merapat di pantai,” perintah lelaki itu lalu menghilang begitu saja. Baginda terperanjat. la meraba-raba matanya untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi. Dilihatnya telapak tangannya tulisan itu ternyata jelas adanya. Baginda Karaeng Matoaya lalu bergegas ke pantai. Betul saja, seorang lelaki tampak tengah menambat perahu, dan menyambut kedatangan beliau. Singkat cerita, Baginda menceritakan pengalamannya tadi dan menunjukkan tulisan di telapak tangannya pada lelaki itu. “Berbahagialah Baginda. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat,” kata lelaki itu. “Adapun lelaki yang menuliskannya adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam sendiri. Baginda Nabi telah menampakkan diri di Negeri Baginda. Peristiwa ini dipercaya sebagai jejak sejarah asal-usul nama Makassar, yakni diambil dari nama "Akkasaraki Nabbiya", artinya Nabi menampakkan diri. Adapun lelaki yang mendarat di Pantai Tallo itu adalah Abdul Kadir Khatib Tunggal yang dikenal sebagai Datu Patimang. Baginda Raja Tallo I Mallingkaan Daeng Manyonri Karaeng Matoaya sendiri bergelar Sultan Abdullah Awaluddin Awawul Islam Karaeng Tallo Tumenanga ri Agamana. Beliau adalah Raja pertama yang memeluk agama Islam di dataran Sulawesi Selatan.
Dilihat dari sejarahnya maka nama Makassar sendiri bernuansa Islami, bukan seperti anggapan umum bahwa Makassar itu kependekan dari manusia kasar. Hehehehehe. Secara umum masyarakat Makassar bukanlah orang yang mudah mengakrabkan diri. Mereka senantiasa curiga kepada para strangers. Yang mereka khawatirkan adalah para strangers ini membawa kebudayaan dan kelakuan yang tidak baik, sehingga merusak nama Makassar. Tetapi setelah kita bisa mengambil hati mereka, Umumnya mereka akan berubah menjadi saudara terdekat kita. Mereka pun kuat dalam beribadah dan bisa sampai fanatisme sempit. Yang beberapa kali saya lihat apabila ada gereja baru dibangun, pasti langsung dibakar. Mereka biasanya sangat bangga dengan ke-Makassarannya. Bila ada orang Makassar dianiaya oleh strangers atau warga keturunan, pasti keadaan kota langsung mencekam. Semua toko2 milik strangers dan warga keturunan akan dibakar, kekerasan dimana2 dan banyak razia strangers dan warga keturunan yang mengatasnamakan Makassar. Jangan begitu daeng. Saya tahu orang Makassar beranian, tidak takut mati dan hebat-lah. Tapi yang seperti Itu sifat orang Jahiliyah. Ingat Daeng, Negara kita kan negara hukum (Katanya !!!). Yang jelek2 begitu tinggalkan. Jangan juga kalo ada konflik antar kampung diselesaikan dengan kekerasan. Jangan main panah, tombak sama badik. Kalo mau jadi atlet panahan atau atlet anggar atau lempar lembing ajah atuh. Mudah2an Makassar di usia yang ke 398, makanan lautnya tambah enak ajah (saya udah lama pisan gak makan ikan tuing2 dikasih sambal dabu2), PSM-nya jadi juara liga lagi, semakin kokoh menjadi pusat niaga dan jasa di Indonesia bagian Timur dan bisa menghasilkan SDM2 berkualitas sekaliber BJ Habibie, Jenderal. M Yusuf, Baharuddin Lopa dan Yusuf Kalla.

 
 

Surat untuk mama

Mama, saya tahu sejauh ini saya belum berhasil dalam hidup. Jangankan untuk kehidupan yang mapan, untuk memenuhi kehidupan sehari2 aja selalu kurang. Ma, saya harap mama jangan bosan memberi semangat kepada anakmu ini, doakan terus anakmu ini, dan janganlah bosan membaca surat dari anakmu ini yang isinya kurang lebih seperti setiap bulannya :

Dear Mom,
Please send money, I’m so broke that it ain’t funny.
Well, I don't need much, just enough to get me through.
Please don’t worry 'cause I'm all right,
See I am earning for something now.
Well, this time, I’m gonna make my dreams come true.
Well, I love you more than anything in the world.
Love,
Your baby boy.

Tapi ma, saya berjanji suatu saat, entah kapan ..... saat mama masih hidup pastinya
saya akan menulis surat kepada mama yang kira2 berisi seperti ini :

Dear Mom,
I’ll send money. I’m so rich that it ain’t funny.
Well it oughtta be more than enough to get you through.
Please don’t worry 'cause I’m all right,
See, I’m stayin’ here at the Ritz tonight
Whaddya know, I made my dreams come true.
And there are fancy cars and diamond rings,
But you know that they don't mean a thing.
Well, they all add up to nothin' compared to you.
Well, remember me when I gave you my 1st wage.
I still love you more than anything in the world.
Love,
Your baby boy.

ada pepatah kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.
jika memang pepatah itu benar adanya ....
saya akan mengasihi mama suatu saat sepanjang galah juga,
tapi bukan galah biasa, melainkan galah super yang sangat panjang
dan disambung2 dan akhirnya sepanjang jalan.

mudah2an cita2 anakmu ini dan harapan mama dapat tercapai dalam waktu dekat. amin.

 
 

Ten Commandments of Egoless Programming.

1. Understand and accept that you will make mistakes.
The point is to find them early, before they make it into production. Fortunately, except for the few of us developing rocket guidance software at JPL, mistakes are rarely fatal in our industry. So we can, and should, learn, laugh, and move on.
2. You are not your code.
Remember that the entire point of a review is to find problems—and problems will be found. Don't take it personally when one is uncovered.
3. No matter how much "karate" you know, someone else will always know more.
Such an individual can teach you some new moves if you ask. Seek and accept input from others, especially when you think it's not needed.
4. Don't rewrite code without consultation.
There's a fine line between "fixing code" and "rewriting code." Know the difference, and pursue stylistic changes within the framework of a code review, not as a lone enforcer.
5. Treat people who know less than you with respect, deference, and patience.
No technical people who deal with developers on a regular basis almost universally hold the opinion that we are prima donnas at best and crybabies at worst. Don't reinforce this stereotype with anger and impatience.
6. The only constant in the world is change.
Be open to it and accept it with a smile. Look at each change to your requirements, platform, or tool as a new challenge, not as some serious inconvenience to be fought.
7. The only true authority stems from knowledge, not from position.
Knowledge engenders authority, and authorities engender respect—so if you want respect in an egoless environment, cultivate knowledge.
8. Fight for what you believe, but gracefully accept defeat.
Understand that sometimes your ideas will be overruled. Even if you do turn out to be right, don't take revenge or say, "I told you so" more than a few times at most, and don't make your dearly departed idea a martyr or rallying cry.
9. Don't be "the guy in the room."
Don't be the guy coding in the dark office emerging only to buy cola. The guy in the room is out of touch, out of sight, and out of control and has no place in an open, collaborative environment.
10. Critique code instead of people—be kind to the coder, not to the code.
As much as possible, make all of your comments positive and oriented to improving the code. Relate comments to local standards, program specs, increased performance, etc.

untuk para rekan2 buruh ketik yang dibayar per LOC
semoga bermanfaat ---- ijch

By Indrajati Chairuddin
On Saturday, August 19, 2006
At 3:59 PM
Comments :